Di Publish Pada Tanggal : Minggu, 08 Januari 2017 15:47 WIB

Warga Makin Berani Tolak Kampanye Ahok, Terdakwa Penista Agama

Jakarta, HanTer - Masa kampanye Pilkada DKI Jakarta yang seyogyanya berjalan dengan aman dan terkendali, ternyata sering tidak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Hal ini lantaran untuk kesekian kalinya pasangan calon terdakwa Ahok dan Djarot ditolak warga, hingga akhirnya berbuntut perkelahian seorang kader partai demokrasi Indonesia perjuangan (PDIP) dengan Laskar Pembela Islam (LPI).

Habib Novel Bamukmin mengatakan, awalnya memang penolakan, yakni tidak ingin bersama saat konvoi mereka melewati laskar.

"Itu bukan pengeroyokan yang ada satu lawan satu. Namanya Ustadz Muhammad Irfan, Qoid LPI di Kecamatan Gropet. Ada saksi warga sekitar yang melihatnya," ujar Novel kepada wartawan di Jakarta, Minggu (8/1/2017).

Ketika rombongan calon wakil gubernur Jakarta Djarot Saiful Hidayat melewati tempat berkumpul anggota Front Pembela Islam di Jelambar. "Kami bilang lewat saja Pak, tidak usah salaman apalagi mampir soalnya ada media. Takutnya nanti kami dibilang nyambut lagi," beber Novel.

Namun ada yang menyahut. "Ada yang bilang haram (tapi) kubu dia malah bilang tidak haram. Spontan kami bangun semua," sambungnya.

Sementara itu kampanye Ahok di Jalan Lontar, Gang Pepaya, Lenteng Agung, Jakarta Selatan juga mendapat penolakan.

Dari penelusuran ada tiga orang warga sempat berniat melakukan penghadangan di ujung Jalan Pepaya, namun aksi itu langsung digagalkan aparat kepolisian.

Sehingga ketegangan dari adu mulut antara warga penolak Ahok dengan aparat kepolisian tak terhindarkan. Warga Gang Pepaya menyebutkan bahwa warga penolak tersebut bukan warga sekitar.

Polisi kemudia menyergap dua dari tiga orang warga dan menyita satu bendera yang masih dalam posisi tergulung dengan tiang bambu. Keduanya langsung dibawa ke Polsek Jagakarsa.

Namun Ani Mariani, kakak dari salah satu penghadang tidak terima adiknya diamankan kepolisian. Ani mengaku seharusnya Ahok tahu jika warga Lenteng Agung menolak kedatangannya dan itu hal yang wajar.

"Tadi itu adik saya. Emang kalau beda pendapat kenapa? Kenapa harus (ditahan) begitu," protes Ani.

Sementara itu mengenai nasib para penghadang Ahok, Harian Terbit mencoba menghubungi Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Raden Prabowo Argo Yuwono namun mantan Kabid Humas Polda Jatim tersebut masih sibuk. "Saya masih potong rambut," ujarnya saat dihubungi.

(Danial)



Redaksi menerima kiriman berita/video/foto amatir melalui email terbitonline[at]gmail.com , disertai dengan biodata lengkap. Kiriman Berita/video/foto akan melalui proses moderasi.

Redaksi : terbitonline[at]gmail.com
Iklan : terbitiklan[at]gmail.com atau iklanterbit[at]yahoo.com

comments powered by Disqus
Google News - harianterbit.com
free web stats